Selasa, 09 November 2010

mad


MAD
 
1. Pengertian MAD beserta Pembagian MAD
 
Mad menurut etimologi berarti tambahan. Menurut istilah tajwid berarti memanjangkan suara sewaktu membaca huruf mad atau huruf layin jika bertemu dengan hamzah atau sukun. Huruf mad ada tiga, yaitu alif, wau dan ya. Syarat mad: Huruf sebelum wau berbaris damah, sebelum ya berbaris kasrah dan sebelum alif berbaris fathah. Jika huruf yang sebelum ya atau wau sukun itu berbaris fathah, tidak disebut huruf mad, akan tetapi disebut dengan huruf layin.
 
  • Mad Tabii atau mad asli, yaitu bila huruf yang setelah mad bukan huruf hamzah atau sukun. Dinamakan tabii karena mad tersebut merupakan sesuatu yang tabii (alami), kadarnya tidak kurang dan tidak lebih. Aturan membacanya sepanjang dua harakat.
a.                   Huruf mad tetap eksis di saat washal atau wakaf, baik huruf mad itu terletak di tengah seperti pada kata( ظ…ط§ظ„ظƒ ) ( ظٹظˆطµظٹظƒظ… )atau di akhir seperti pada kata( ط§ظ„ط´ظ…ط³ ظˆط¶ط­ط§ظ‡ط§ ).
Syarat mad tabii adalah tidak terdapat huruf hamzah atau sukun setelah huruf mad tersebut.
b.                  Mad asli atau tabii bisa terjadi pada shilah shughra, yaitu huruf wau kecil yang terdapat setelah ha dhamir yang berbaris damah dan ya kecil yang terdapat setelah ha dhamir yang berbaris kasrah. Agar ha dhamir bisa disambung dengan wau atau ya, disyaratkan agar huruf itu harus terdapat di antara dua huruf yang berharakat, seperti( ط¥ظ†ظ‡ ظ‡ظˆ ) ( ط¨ظ‡ ط¨طµظٹط±ط§ ).
Dalam hal ini, wau dan ya dibaca panjang, dua harakat (dengan syarat tidak terdapat huruf hamzah pada kata lain) ketika washal, sedangkan ketika wakaf tidak dibaca panjang.
c.                   Mad asli atau tabii bisa juga terjadi pada huruf mad yang eksis ketika wakaf dan hilang ketika washal. Hal ini terjadi pada huruf alif pengganti tanwin (fathatain) seperti( ط¹ظ„ظٹظ…ظ‹ط§ ط­ظƒظٹظ…ظ‹ط§ ),jika berhenti pada huruf alif( ط­ظƒظٹظ…ظ‹ط§ ).
Hal mana mad akan hilang bila disambung dengan kata sesudahnya.
 
 
  • Mad Far`i adalah mad yang merupakan tambahan terhadap mad tabii karena salah satu dua sebab, yaitu hamzah dan sukun.
a.       Mad Muttashil (bersambung), disebut mad muttashil bila dalam satu kata bertemu mad tabii dengan huruf hamzah. Dinamakan muttashil karena mad tabii bertemu dengan huruf hamzah dalam satu kata. Mad muttasil disebut juga mad wajib. Aturan bacaannya sepanjang empat harakat atau lima harakat atau enam harakat ketika berhenti.
b.      Mad Munfashil (terpisah), disebut mad munfashil bila mad tabii bertemu dengan huruf hamzah di kata berikutnya. Dinamakan munfashil karena huruf mad dengan huruf hamzah terdapat pada kata yang berbeda. Aturan membacanya boleh sepanjang dua harakat, empat harakat atau lima harakat menurut Imam Hafsh. Termasuk mad munfashil adalah shilah kubra, yaitu bila wau kecil yang terdapat setelah ha dhamir yang berbaris damah dan ya kecil yang terdapat setelah ha dhamir yang berbaris kasrah bertemu dengan hamzah di lain kata. Aturan membacanya sama dengan mad shilah di saat washal, sedangkan di saat wakaf tidak dibaca panjang.
c.   Mad Aridh, disebut mad aridh bila huruf mad atau huruf layin bertemu dengan sukun yang terjadi karena wakaf. Dinamakan aridh karena mad asli yang terdapat di akhir ayat dibaca sukun karena wakaf, jika diwashal dia tetap sebagai mad tabii. Aturan membacanya boleh tiga macam; pendek (dua harakat),sedang (empat harakat), panjang (enam harakat).
Contoh,(
ط§ظ„ط­ظ…ط¯ ظ„ظ„ظ‡ ط±ط¨ ط§ظ„ط¹ط§ظ„ظ…ظٹظ† ).
Hal yang sama juga diperlakukan pada mad layin ketika wakaf. Contoh,(
ظپظ„ظٹط¹ط¨ط¯ظˆط§ ط±ط¨ ظ‡ط°ط§ ط§ظ„ط¨ظٹطھ ).
Dinamakan mad layin (lembut) karena pengucapannya lembut dan mudah.
d.   Mad Badal, disebut mad badal bila huruf hamzah terdapat sebelum mad tabii di dalam satu kata (setelah mad tidak ada lagi hamzah atau sukun).
Dinamakan mad badal karena huruf mad merupakan pengganti dari huruf hamzah, di mana asal dari mad badal pada umumnya adalah karena bertemunya dua hamzah dalam satu kata, yang pertama berharakat dan yang kedua sukun, seterusnya huruf hamzah yang kedua diganti menjadi huruf mad yang sesuai dengan jenis harakat huruf hamzah yang pertama, untuk meringankan bacaan. Jika huruf hamzah yang pertama berbaris fathah, maka yang kedua diganti menjadi huruf alif seperti(
ط¢ظ…ظ†ظˆط§ )asalnya( ط،ط£ظ…ظ†ظˆط§ ), jika huruf yang pertama berbaris kasrah, maka yang kedua diganti menjadi huruf ya seperti( ط¥ظٹظ…ط§ظ†ط§ ), asalnya( ط¥ط¦ظ…ط§ظ†ط§ ), jika huruf yang pertama berbaris damah, maka huruf yang kedua diganti menjadi huruf wau seperti( ط£ظˆطھظˆط§ )asalnya( ط£ط¤طھظˆط§ ).
Aturan membacanya adalah sepanjang dua harakat seperti mad tabii.
e.   Mad Lazim, disebut mad lazim adalah bila mad tabii bertemu dengan sukun yang tetap eksis baik dalam keadaan washal atau wakaf, baik dalam satu kata atau pun tidak. Dinamakan lazim (harus) karena mad tersebut harus dibaca enam harakat dan karena keharusan eksisnya sukun, baik ketika washal atau pun wakaf.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar